KESEHATAN LINGKUNGAN DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM

Disusun Oleh :
Meri Apriani (
13.13101.10.02 )
Dosen
Pengajar : Prof. Supli
Effendi Rahim
PROGRAM PASCA SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA
HUSADA PALEMBANG
TAHUN 2014
A. Kesehatan
Lingkungan
Ø
Pengertian
1. Pengertian
kesehatan
a. Menurut WHO
“Keadaan yg meliputi kesehatan
fisik, mental, dan sosial yg tidak hanya berarti suatu keadaan yg bebas dari
penyakit dan kecacatan.”
b. Menurut UU
No 23 / 1992 tentang kesehatan
“Keadaan sejahtera dari badan,
jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial
dan ekonomis.”
Ø Pengertian
lingkungan
Menurut A.L. Slamet Riyadi (1976)
“ Tempat pemukiman dengan segala
sesuatunya dimana organismenya hidup beserta segala keadaan dan kondisi yang
secara langsung maupun tidak dpt diduga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan
maupun kesehatan dari organisme itu.”
3.
Pengertian
kesehatan lingkungan
Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)
“ Suatu kondisi lingkungan yang
mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan
lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan
bahagia.”
Menurut WHO (World Health Organization)
“Suatu keseimbangan ekologi yang
harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari
manusia.
Menurut kalimat yang merupakan
gabungan (sintesa dari Azrul Azwar, Slamet Riyadi, WHO dan Sumengen)
“ Upaya perlindungan,
pengelolaan, dan modifikasi lingkungan yang diarahkan menuju keseimbangan
ekologi pd tingkat kesejahteraan manusia yang semakin meningkat.”
Ø Ruang lingkup kesehatan lingkungan
Menurut WHO ada 17 ruang lingkup kesehatan
lingkungan :
1. Penyediaan
Air Minum
2. Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran
3. Pembuangan
Sampah Padat
4. Pengendalian
Vektor
5. Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
6. Higiene
makanan, termasuk higiene susu
7. Pengendalian
pencemaran udara
8. Pengendalian
radiasi
9. Kesehatan
kerja
10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesling dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan
sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah, bencana alam dan
perpindahan penduduk.
17. Tindakan
pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.
Menurut Pasal 22 ayat (3) UU No 23 tahun 1992
ruang lingkup kesling ada 8 :
1.
Penyehatan
Air dan Udara
2.
Pengamanan
Limbah padat/sampah
3.
Pengamanan
Limbah cair
4.
Pengamanan
limbah gas
5.
Pengamanan
radiasi
6.
Pengamanan
kebisingan
7.
Pengamanan
vektor penyakit
8.
Penyehatan dan pengamanan lainnya : Misal Pasca bencana
Ø Masalah-masalah Kesehatan Lingkungan di Indonesia
1.
Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat
langsung diminum.
Syarat-syarat Kualitas Air Bersih
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
b. Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan
(maks 500 mg/l)
c. Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml
air)
2. Pembuangan Kotoran/Tinja
Metode pembuangan tinja yang baik
yaitu dengan jamban dengan syarat sebagai berikut :
a. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
b. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata
air atau sumur
c. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
d. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
e. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila memang benar-benar
diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin.
f. Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang.
g. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.
3. Kesehatan Pemukiman
Secara umum rumah dapat dikatakan
sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Memenuhi kebutuhan fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan dan
ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
b. Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup,
komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah
c. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antarpenghuni
rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga,
bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup
sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran,
disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup.
d. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang
timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis
sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan
tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.
4. Pembuangan Sampah
Teknik pengelolaan sampah yang
baik harus memperhatikan faktor-faktor/unsur :
a. Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah adalah
jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat aktivitas, pola kehidupan/tk sosial
ekonomi, letak geografis, iklim, musim, dan kemajuan teknologi.
b. Penyimpanan sampah.
c. Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali.
d. Pengangkutan
e. Pembuangan
Dengan
mengetahui unsur-unsur pengelolaan sampah, kita dapat mengetahui hubungan dan
urgensinya masing-masing unsur tersebut agar kita dapat memecahkan
masalah-masalah ini secara efisien.
5. Serangga dan Binatang Pengganggu
Serangga sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit
penyakit yang kemudian disebut sebagai vektor misalnya : pinjal tikus untuk
penyakit pes/sampar, Nyamuk Anopheles sp untuk penyakit Malaria, Nyamuk Aedes
sp untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk Culex sp untuk Penyakit Kaki
Gajah/Filariasis. Penanggulangan/pencegahan dari penyakit tersebut diantaranya
dengan merancang rumah/tempat pengelolaan makanan dengan rat proff
(rapat tikus), Kelambu yang dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan
Nyamuk Anopheles sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur dan menutup) tempat
penampungan air untuk mencegah penyakit DBD, Penggunaan kasa pada lubang angin
di rumah atau dengan pestisida untuk mencegah penyakit kaki gajah dan
usaha-usaha sanitasi.
Binatang
pengganggu yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing dapat menularkan
penyakit rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi perantara
perpindahan bibit penyakit ke makanan sehingga menimbulakan diare. Tikus dapat
menyebabkan Leptospirosis dari kencing yang dikeluarkannya yang telah
terinfeksi bakteri penyebab.
6. Makanan dan Minuman
Sasaran higene
sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah makan, jasa boga dan
makanan jajanan (diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau
disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang
disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel).
Persyaratan
hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat pengelolaan makanan meliputi :
a. Persyaratan
lokasi dan bangunan;
b. Persyaratan fasilitas sanitasi;
c. Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan;
d. Persyaratan bahan makanan dan makanan jadi;
e. Persyaratan
pengolahan makanan;
f. Persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi;
g. Persyaratan
peralatan yang digunakan.
7. Pencemaran Lingkungan
Pencemaran lingkungan diantaranya pencemaran air,
pencemaran tanah, pencemaran udara. Pencemaran udara dapat dibagi lagi menjadi
indoor air pollution dan out door air pollution. Indoor air pollution merupakan
problem perumahan/pemukiman serta gedung umum, bis kereta api, dll. Masalah ini
lebih berpotensi menjadi masalah kesehatan yang sesungguhnya, mengingat manusia
cenderung berada di dalam ruangan ketimbang berada di jalanan. Diduga akibat pembakaran kayu bakar, bahan bakar rumah tangga lainnya
merupakan salah satu faktor resiko timbulnya infeksi saluran pernafasan bagi
anak balita. Mengenai masalah out door pollution atau pencemaran udara di luar
rumah, berbagai analisis data menunjukkan bahwa ada kecenderungan peningkatan.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan resiko dampak pencemaran pada
beberapa kelompok resiko tinggi penduduk kota dibanding pedesaan. Besar resiko
relatif tersebut adalah 12,5 kali lebih besar. Keadaan ini, bagi jenis pencemar
yang akumulatif, tentu akan lebih buruk di masa mendatang. Pembakaran hutan
untuk dibuat lahan pertanian atau sekedar diambil kayunya ternyata membawa
dampak serius, misalnya infeksi saluran pernafasan akut, iritasi pada mata,
terganggunya jadual penerbangan, terganggunya ekologi hutan.
D. Penyebab masalah kesehatan lingkungan di Indonesia
1. Pertambahan
dan kepadatan penduduk.
2. Keanekaragaman sosial budaya dan adat istiadat dari sebagian besar
penduduk.
3. Belum memadainya pelaksanaan fungsi manajemen.
E. Hubungan dan pengaruh kondisi lingkungan terhadap
kesehatan masyarakat di perkotaan dan pemukiman.
Contoh hubungan dan
pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan masyarakat di perkotaan dan
pemukiman diantaranya sebagai berikut
1. Urbanisasi >>> kepadatan kota >>> keterbatasan lahan
>>> daerah slum/kumuh >>> sanitasi kesehatan lingkungan buruk
2. Kegiatan di kota (industrialisasi) >>> menghasilkan limbah cair
>>> dibuang tanpa pengolahan (ke sungai) >>> sungai
dimanfaatkan untuk mandi, cuci, kakus>>> penyakit menular.
3. Kegiatan di kota (lalu lintas alat transportasi) >>> emisi gas
buang (asap) >>> mencemari udara kota>>>udara tidak
layak dihirup >>> penyakit ISPA.
B. EKOSISTEM DAN
LINGKUNGAN
Ø Pengertian Ekosistem
Pengertian ekosistem menurut beberapa ahli dan sumber
diantaranya:
ü Tansley :
Ekosistem atau sistem ekologi
adalah lingkungan hayati dan non hayati
bersama dengan populasi atau komunitasnya
ü Miller :
Ekosistem adalah suatu lingkungan
tertentu dengan masukan dan keluaran energi sertamateri yang dapat diukur dan
dihubungkandengan faktor lingkungan
ü Undang-undang pengelolaan lingkungan
hidup no.23 th 1997:
Ekosistem adalah tatanan secara
utuh menyeluruh antara segenap unsur
lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
Sistem terdiri atas komponen-komponen yang bekerja
secara teratur sebagai satu kesatuan sedangkan ekologi ialah imu yang mengkaji
hubungan timbal balik antara organisma
dengan habitatnya.
Ekosistem diartikan sebagai tatanan kesatuan secara
utuh menyeluruh antara segenap komponen lingkungan hidup yang saling
berinteraksi membentuk satu kesatua yang teratur.
Ø Macam-Macam Ekosistem
Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi
ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas
ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.
1. Ekosistem Darat
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan
fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya),
ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.
· Bioma Gurun
· Bioma Padang Rumput
· Savanna
· Bioma Hutan Basah
· Bioma Hutan Gugur
· Bioma Taiga
· Bioma Tundra
2.
Ekosistem Air
Tawar
Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan
air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk
ekosistem air mengalir adalah sungai.
· Danau
· Sungai
3. Ekosistem air laut
Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai,
estuari, dan terumbu karang.
Ø Komponen Ekosistem
Dilihat dari segi penyusunnya, suatu ekosistem itu terdiri
atas 4 komponen yaitu :
a. Bahan tak hidup (abiotik, non hayati), yaitu komponen
fisik dan kimia yang terdiri atas tanah, air, udara, sinar matahari dan
sebagainya dan merupakan tempat untuk berlangsungnya kehidupan.
b. Produsen, yaitu organisme autotrofik yang umumnya berupa tumbuhan berkhlorofil yang dapat
mensintesis makanan dari bahan anorganik.
c. Konsumen, yaitu organisme heterotrofik, misalnya hewan dan manusia yang makan organisme lain.
d. Pengurai atau decomposer,
yaitu organisme heterotrofik yang
menguraikan bahan organic yang berasal dari organisme mati. Bakteri dan jamur
termasuk dalam kelompok ini.
Dilihat dari fungsinya, suatu ekosistem itu terdiri atas 2 komponen, yaitu:
a.
Autotrofik (autos= sendiri; trophikos=
menyediakan makanan), yaitu organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis
makanannya sendiri yang berupa bahan-bahan organik dan bahan-bahan anorganik
dengan bantuan energi matahari dan khlorofil (zat hijau daun). Oleh sebab itu
semua organisme yang mengandung khlorofil disebut organisme autotrofik.
b.
Heterotrofik (hetero= berbeda, lain), yaitu organisme yang mampu memanfaatkan
hanya bahan-bahan organic sebagai bahan makanannya dan bahan tersebut
disintesis dan disediakan oleh organisme lain. Hewan,
jamur, dan jasad renik (mikroorganisme) termasuk dalam kelompok ini.
Ø Aliran Materi dan
Energi dalam Ekosistem
Sebuah ekosistem dapat berfungsi dengan adanya aliran
materi dan energi. Produsen dan konsumen membentuk aliran energi atau rantai
makanan dan bersama dengan pengurai terbentuklah daur materi. Materi adalah
segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Aliran materi dari mata
rantai satu ke mata rantai lainnya itulah yang disebut rantai makanan.
1.
Rantai Makanan
Perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan
dimakan dengan urutan tertentu disebut rantai makanan.
Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan
organisme lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu
dengan lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal
balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati
membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem. Di dalam ekosistem terjadi
rantai makanan, aliran energi, dan siklus biogeokimia.
Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya
dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan.
Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit.
Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit.
a.
Rantai Pemangsa
Rantai pemangsa landasan
utamanya adalah tumbuhan hijau sebagai produsen. Rantai pemangsa dimulai dari
hewan yang bersifat herbivora sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan hewan
karnivora yang memangsa herbivora sebagai konsumen ke-2 dan berakhir pada hewan
pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai konsumen ke-3.
b. Rantai Parasit
Rantai parasit dimulai dari
organisme besar hingga organisme yang hidup sebagai parasit. Contoh organisme
parasit antara lain cacing, bakteri, dan benalu.
c.
Rantai Saprofit
Rantai saprofit dimulai dari
organisme mati ke jasad pengurai. Misalnya jamur dan bakteri. Rantai-rantai di
atas tidak berdiri sendiri tapi saling berkaitan satu dengan lainnya sehingga
membentuk faring-faring makanan.
Ø Rantai Makanan dan Tingkat
Trofik
Salah satu cara suatu komunitas
berinteraksi adalah dengan peristiwa makan dan dimakan, sehingga terjadi
pemindahan energi, elemen kimia, dan komponen lain dari satu bentuk ke bentuk
lain di sepanjang rantai makanan.
Organisme dalam kelompok
ekologis yang terlibat dalam rantai makanan digolongkan dalam tingkat-tingkat
trofik. Tingkat trofik tersusun dari seluruh organisme pada rantai makanan yang
bernomor sama dalam tingkat memakan.
Sumber asal energi adalah matahari. Tumbuhan yang
menghasilkan gula lewat proses fotosintesis hanya memakai energi matahari dan C02
dari udara. Oleh karena itu, tumbuhan tersebut digolongkan dalam tingkat trofik
pertama. Hewan herbivora atau organisme yang memakan tumbuhan termasuk anggota
tingkat trofik kedua. Karnivora yang secara langsung memakan herbivora termasuk
tingkat trofik ketiga, sedangkan karnivora yang memakan karnivora di tingkat
trofik tiga termasuk dalam anggota iingkat trofik keempat.
Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi
atau taraf trofik. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan
adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan hijau atau
produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas hewan
pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan konsumen
primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan karnivora.
2.
Jaring-Jaring Makanan
Pada hakikatnya, setiap makhluk hidup di dalam suatu
ekosistem merupakan sumber materi dan energi bagi makhluk hidup lainnya. Suatu
kenyataannya bahwa setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu jenis
makhluk hidup lainnya.
Akibat dari semua itu maka di dalam suatu ekosistem,
rantai-rantai makanan itu akan saling berhubungan satu sama lain sedemikian
rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Itulah sebabnya disebut
jaring-jaring makanan.
3.
Saling Kebergantungan Antara Komponen Biotik dan
Abiotik
Saling kebergantungan di antara komponen yang ada
dalam ekosistem, baik antara komponen biotik dan abiotik contohnya dapat
dilihat pada siklus karbon. Siklus karbon tidak akan berjalan dengan baik
apabila tidak ada tumbuhan, hewan, pengurai, air dan tanah.
Ø Pelestarian Ekosistem
Keanekaragaman makhluk hidup perlu dijaga supaya
ekosistem menjadi stabil. Semakin beranekaragam makhluk hidup dalam suatu
ekosistem, semakin stabil ekosistem tersebut. Flora dan fauna alami yang
terdapat di hutan perlu dilestarikan karena merupakan sumber plasma nutfah
(plasma benih). Sumber plasma nutfah dapat dimanfaatkan untuk mencari bibit
unggul bagi kepentingan kesejahteraan manusia. Upaya perlindungan keanekaragaman
hayati dapat dilakukan dengan mendirikan cagar alam, taman nasional, hutan
wisata, taman laut, hutan lindug dan kebun raya.
Untuk mencegah kepunahan makhluk hidup, kadang
diperlukan pemeliharaan untuk mengembangbiakannya, yang disebut dengan penangkaran.
Pemeliharaan dapat dilakukan secara in situ dan ex situ. Pemeliharaan in situ
adalah pemeliharaan yang dilakukan di habitat aslinya. Pemeliharaan ex situ
adalah pemeliharaan yang dilakukan di luar habitat aslinya, misalnya di kebun
binatang.
Ø Pola-Pola Interaksi
Simbiosis adalah bentuk interaksi yang sangat erat dan
khusus antara dua makhluk hidup yang berlainan jenis. Makhluk hidup yang
melakukan simbiosis disebut simbion.
Simbiosis dapat dibedakan menjadi beberapa macam,
diantaranya :
a) Simbiosis Mutualisme
Yaitu interaksi antara dua individu ataupun populasi
yang saling menguntungkan. Misalnya, simbiosis antara jenis jamur tertentu dan
jenis alga tertentu membentuk likenes, antara bunga dengan kupu-kupu.
b) Simbiosis Parasitisme
Yaitu interaksi dua individu/populasi di mana salah
satu individu untung, sedang simbion pasangannya rugi. Contohnya, benalu yang
tumbuh pada ranting pohon mangga, cacing perut dan cacing tambang yang hidup di
dalam usus manusia.
c)Simbiosis Komensalisme
Yaitu interaksi antara individu/populasi yang satu
untung sedangkan individu/populasi lainnya tidak untung dan juga tidak rugi.
Contohnya, interaksi antara ikan remora kecil yang menempel pada ikan hiu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar